Saturday, June 30, 2012

Pelajaran Dari Kematian Bagi Yang Masih Hidup


Anas Bin Malik menceritakan, Rasulullah SAW pernah berkhutbah kepada mereka ketika baginda berada di atas unta. Katanya:

"Wahai manusia, kita merasakan seolah-olah kematian itu hanya berlaku kepada orang lain, tetapi tidak kepada kita. Seolah-olah kebenaran itu hanya wajib dilakukan oleh orang lain. Kita menganggap perjalanan kita mengiringi jenazah itu seperti perjalanan yang singkat dan kemudian kembali semula. Kita membaringkan jenazah ini di dalam kubur, lalu kita menggunakan harta pusakanya,seolah-olah kita kekal selama-lamanya sepeningalannya. Kita lupa setiap pelajaran dan merasa seolah-olah harta itu tidak akan binasa.Beruntung orang yang mewakafkan hartanya, yang tidak diperoleh dengan jalan yang dilarang Allah. Bergaul dengan orang berilmu dan orang bijak, dekati orang fakir dan miskin. Beruntung orang yang tidak menghina dirinya, iaitu tidak sombong, baik akhlaknya, bagus perilakunya, mencegah manusia daripada melakukan kejahatan. Beruntung mereka yang mewakafkan lebihan hartanya, tidak banyak berbicara, menguasai sunnah dan tidak berminat dengan perkara-perkara bidaah.
Di rekodkan oleh al-Bazzar."

Sumber : Khutbah Rasulullah ( Wasiat Agung Buat Umat Tercinta) tulisan Rohidzir Rais

Thursday, June 28, 2012

Hayya Bil Jihad


Riwayat Abu Daud dr Tsauban, Rasulullah S.A.W bersabda:

"Hampir semua bangsa akan memperebutkan kalian, laksana penyantap yang memperebutkan makanan di sebuah mangkok yang besar. Ada yang bertanya,"Apakah kerana sedikitnya jumlah kami pada saat itu?"Baginda bersabda,"Bahkan kalian saat itu berjumlah banyak, tetapi kalian ibarat buih air bah & Allah akan mencabut rasa takut dari dada msuh kamu & mencampakkan wahn ke dalam hati kalian" Ada sahabat bertanya "Wahai Rasulullah, apakah wahn tu?" Baginda menjawab,"Cinta dunia & takut mati."

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah:
Rasulullah pernah ditanya, "Amalan apa yang paling utama?" Baginda menjawab "Beriman kepada Allah" kemudian? "Jihad dijalan Allah" lalu? Baginda menjawab "Haji Mabrur."

Dari Tarmidzi & Abu Daud:
"Sebaik-baik jihad adalah kata-kata yang menyeru kepada kebenaran di hadapan pemimpin yang zalim"

Daripada Abdullah bin Abu Aufa r.a , Rasulullah S.A.W bersabda:
" Syurga di bawah bayangan pedang. " (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Daripada Abu Musa al-Asy'ari, Rasulullah S.A.W bersabda:
" Sesiapa berjuang untuk menjadikan kalimah Allah sebagai kalimah yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah. " (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Daripada Said bin Zaid r.a , Rasulullah S.A.W bersabda:
" Sesiapa yang dibunuh kerana mempertahankan hartanya, ia adalah syahid. Siapa yang dibunuh kerana mempertahankan agamanya, ia adalah syahid. Siapa yang dibunuh kerana mempertahankan darahnya, ia adalah syahid. Siapa yang dibunuh kerana mempertahankan ahli keluarganya, ia adalah syahid. " 
( Riwayat al-Tirmizi dan al-Nasa'i )

Daripada Sahl bin Saad al-Sa'idi r.a , Rasulullah S.A.W bersabda:
" Sehari bersiap-siaga di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan apa yang di atasnya. "
(Riwayat al-bukhari )

"Dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka adalah mata yang berjaga bagi jihad di jalan Allah & mata yang menangis kerana takutkan Allah."

Telah bersabda Rasulullah S.A.W:
"Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikatpada hari mereka keluar dari kuburnya:

1. Orang-orang yang mati syahid
2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam pada bulan Ramadhan
3. Orang yang berpuasa pada hari Arafah

Daripada Abdullah bin Abu Aufa r.a , Rasulullah S.A.W bersabda:
" Syurga di bawah bayangan pedang. " (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Allah S.W.T berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 154 yang bermaksud:
"Dan janganlah kamu mengatakan (bahawa) sesiapa yang terbunuh dalam perjuangan membela agama Allah itu: orang-orang mati; bahkan mereka itu orang-orang yang hidup (dengan keadaan hidup yang istimewa), tetapi kamu tidak dapat menyedarinya. "

Sama-sama lah kita ambil iktibar dan beramal dgn apa yg tlh disampaikan oleh Rasulullah S.A.W kpd umatnya sejak bekurun lg krn Baginda mahu semua umatnya memasuki syurga dan menegakkan syi'ar Islam walaupun dizalimi, dikeji oleh pemimpin-pemimpin yg zalim pd zaman kini.
Wallahu'alam.



Tuesday, June 26, 2012

Istighfar Kepada ALLAH SWT


Istighfar, kalimat yang sangat pendek, tapi memiliki makna yang sangat dahsyat, sangat dalam, sangat indah dalam hidup kita.
Ia merupakan tradisi ritual Islam yang sangat fundamental.
Sebab dalam Istighfar itu mengandungi beberapa elemen rohani, sebagaimana dinyatakan di dalam al-Quran mahupun Sunnah Rasulullah SAW. Sejumlah ayat tentang Istighfar atau pertobatan sangat banyak dikutip al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW, misalnya:
“Mereka apabila melakukan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, segera
ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya…(QS. 3:135).
“Maka barangsiapa memuji Tuhanmu, dan memohon ampunan kepada-Nya,
sungguh Dia Maha penerima Taubat.” (QS. 110:3)
“…dan orang-orang yang memohon ampun sebelum fajar.” (QS. 3:17).
“Maha Suci Engkau Wahai Allah, Tuhanku! Dan dengan segala puji bagi-Mu ya Allah Tuhanku, ampunilah aku! Sesungguhnya Engkau Maha Menerima Taubat, lagi Maha Pengasih.” (HR. al-Hakim).
“Barang siapa memperbanyak istighfar, maka akan diberi kelapangan dalam setiap kesusahan dan jalan keluar dari kesempitan. Dan dianugerahi rezeki dari jalan yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
“Sungguh hatiku didera kerinduan yang sangat dalam, sehingga aku beristighfar seratus kali setiap hari.” (HR. Muslim).
“Meski dosa-dosamu sebanyak buih lautan, sebanyak butir pasir di padang pasir, sebanyak daun di seluruh pepohonan, atau seluruh bialangan jagad semesta, Allah SWT tetap akan selalu mengampuni, bila engkau mengucapkan doa sebanyak tiga kali sebelum engkau tidur: Astaghfirullahal ‘Adzim al-Ladzii Laailaaha Illa Huwal Hayyul Qayyuumu wa Atuubu Ilaih. (Aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Memelihara (kehidupan), dan aku bertobat kepada-Nya).” (HR. at-Tirmidzi).
Terjemahan Istighfar: “Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”
Istighfar memiliki dua makna yang jelas yang menjuruskan kepada hubungan kita dengan Allah SWT. Semoga selama ini kita sebut istighfar mencapai makna-maknanya.

Yang pertama, setiap kali kita mengucapkan astagfirullahal ‘adzim, berarti kita minta ampun kepada Allah, minta dimaafkan kesalahan kita, minta ditutupi aib-aibkita. Semakin sering kita beristighfar maka semakin bersih diri kita dari dosa, dari kesalahan, dari aib-aib. Karena itu Allah sangat menyukai hamba Allah yang terus beristighfar. Karena tidak satu pun di antara kita yang bersih dari dosa, maka istighfar adalah kewajiban dan kebutuhan kita, agar Allah mengampuni dosa kita, memaafkan kesalahan kita dan menutupi aib kita.
Yang kedua, setiap kali kita mengucapkan astagfirullahal ‘adzim, berarti kita minta kepada Allah, mohon kepada Allah, amat sangat, agar Allah memperbaiki hidup kita, menguatkan aqidah kita, membuat kita nikmat dalam ibadah khusyuk, menjadikan akhlaq kita mulia.
Istighfar Individu dan Sosial.
Dalam ritualitas vertikal, seorang hamba tidak hanya meraup kebahagiaan di hadapan Allah, tanpa ia menyertakan sesama umat beriman. Justru kualitas keimanan seseorang sangat berkait erat dengan kepedulian ruhaninya terhadap orang lain.
Keteladanan Rasulullah SAW, ketika saat Yaumul Mahsyar memberikan cermin kepada umatnya, bahwa kulitas ruhani Rasulullah SAW, yang melebihi para Nabi dan Rasul, terpantul pada pembelaannya akan nasib umat di hadapan Allah. Suatu sikap yang tidak dimiliki oleh para pemimpin dan para Nabi/Rasul. Sebab ketika para hamba Allah meminta syafa’at kepada para Nabi, mulai Nabi Adam as, hingga Isa al-Masih as, ternyata mereka enggan, disebabkan mereka tidak berdaya, terutama memikirkan nasibnya sendiri-sendiri. Berbeda dengan Nabi Muhammad SAW, yang justru tidak memikirkan nasib dirinya di hadapan Allah, malah yang terucap hanya kalimat: “Umatii…umatii..umatii…” (umatku… duh, umatku…umatku…).
Justru pembelaan Nabi Muhammad SAW itulah yang memberikan kewenangan padanya, syafa’at besar yang bisa menyelamatkan umat dari siksa Allah SAW. Oleh sebab itu, Islam mengajarkan agar dalam permohonan ampunan, juga menyertakan permohonan ampunan untuk sesama umat. Misalnya, Istighfar yang berbunyi:
Astaghfurullahal ‘adzim, lii waliwaalidayya, walijami’il huquuqi waajibati ‘alayya, walijami’il muslimin wal-muslimaat wal-mu’minin wal mu’minaat al-ahyaa’I minhum wal-amwaat.
(Aku mohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, bagiku dan bagi kedua orang tuaku, dan bagi seluruh orang yang menjadi tanggungan kewajibanku, dan bagi umat muslimin dan muslimat, dan kaum mu’minin dan mu’minat).
Dari nilai Istighfar di atas memberikan perspektif luar biasa bagi integrasi dan dinamika sosial secara damai. Hubungan-hubungan sosial akan berlaku dengan penuh kesejatian hati ke hati, karena hubungan yang bersifat emosional negatif dinetralisir oleh istighfar sosial di atas.
Makanya, kualitas Istighfar bukan saja ditentukan hubungan yang sangat pribadi dengan Allah, tetapi juga sejauhmana seorang hamba menghayati Istighfar sosialnya.
Subhanallah. Istighfar merupakan satu ucapan tetapi memiliki dua keinginan. 2- in-1. Karena itu tidak heran hamba Allah yang sungguh-sungguh beristigfar tampak dalam kehidupannya, semakin berkah, semakin membawa kebaikan dan perbaikan,semakin bahagia, tenang, senang, menyenangkan, di dunia dan di akhirat.
Karena itu Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang melazimkan, mendawamkan dirinya selalu beristighfar kepada Allah, maka Allah mudahkan saat ia sulit, Allah gembirakan saat ia sedih,dan Allah beri rezki dari jalan yang tidak pernah ia duga.”
Kemudian dalam Al Qur’an surat Nuh ayat 10, 11, 12, Allah SWT berfirman, “Beristighfarlah kepada Tuhanmu – sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun – niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan(pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”. (QS. Nuh:10-12)
Beristighfarlah kita kepada Allah, niscaya Allah turunkan musim hujan yang berat. Allah mudahkan kita mendapatkan rezeki. Allah hadirkan di tengah kita anak-anak kita, generasi-generasi yang sholeh, generasi robbani. Kemudian Allah makmurkan negeri kita, Allah sejahterakan kita. Allahu Akbar.
Jadi, istighfar bukan hanya kewajiban, tapi kebutuhan kita. Karena itulah Rasulullah SAW, beliau tidak bangun dari tempat tidur beliau, kecuali beliau beristighfar 70 kali, dalam hadits lain 100 kali. Padahal dia ma’sum, dijamin masuk surga, bebas dari dosa, (tapi) begitu hebat istighfarnya kepada Allah. Apalagi kita hanya manusia biasa yang banyak dosa tanpa kita sedari atau tidak.
Mengakhiri tazkirah yang panjang ini, ingin menegaskan bahawa istighfar adalah salah satu amalan mulia dan perlu ditanamkan di dalam jiwa kita, kerana dengan nilai dan hikmah istighfar inilah, kita dapat membentuk manusia yang kenal diri, mengenang budi dan menghargai setiap nikmat yang diperolehi.
Jom kita istghfar bersama-sama sebentar.
Astagfirullahal ‘adzim, ampunilah dosa kami ya Allah.. tutupi aib kami…. betapa selama ini kami mudah tergelincir dalam dosa namun tak bersegera memohon ampun kepada-Mu. Amin!
Sumber : http://www.deamira.com/2011/02/astaghfirullahalazim/

Thursday, June 21, 2012

Tuntutan dan Etika Ketika Berdoa (Part 2)

Di antara tuntutan-tuntutan dan etika di dalam berdoa itu ialah:

1. Memelihara sumber rezeki seperti makanan, minuman dan pakaian daripada sumber yang haram sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu baik (suci bersih daripada segala kekurangan), Dia (Allah) tidak menerima kecuali yang baik (halal), dan Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.” Maka Dia (Allah) berfirman: “Wahai para rasul makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal salih; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Al-Mu’minun: 51) Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah daripada benda-benda yang baik (halal) yang telah Kami berikan kepada kamu” (Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah menyebutkan berkenaan seorang lelaki yang melakukan perjalanan yang jauh, yang kusut rambutnya lagi berdebu, dia menadahkan tangannya ke langit sambil (berkata): “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku (berdoa), (padahal) makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi makan dengan yang haram,bagaimana doanya itu hendak dimakbulkan?” (Hadis riwayat Muslim)
2. Berwudhu dan memulakan serta mengakhiri doa dengan menyebut dan memuji-muji nama Allah serta memberi selawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Daripada Abu Musa Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :
“Aku datang masuk ke rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Baginda di atas katil yang ditenun dengan tali dan di atasnya hamparan. Tenunan tali pada katil itu membekas pada punggung dan kedua lambung Baginda, lalu aku memberitahu kepada Baginda akan berita kami dan berita Abu Amir (yang terbunuh di dalam peperangan Awthas) yang berkata (kepadaku): “Katakanlah kepada Nabi, mintakanlah keampunan untukku” Lalu Baginda minta diambilkan air maka Baginda pun berwudhu. Kemudian Baginda mengangkat kedua tangannya lalu berdoa: “Ya Allah! Ampunilah Ubaid Abu Amir.” (Hadis riwayat Bukhari)
Doa adalah zikir (mengingati) kepada Allah. Berdasarkan ini diriwayatkan daripada Muhajir Bin Qunfudz Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :
“Sesungguhnya dia (Muhajir bin Qunfudz) datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang Nabi membuang air kecil. Maka dia memberi salam kepada Baginda, maka tidak dijawab oleh Baginda sehinggalah Baginda berwudhu kemudian memberikan alasan kepadanya dengan bersabda: “Sesungguhnya aku benci menyebut nama Allah Azza wa Jalla kecuali aku di dalam keadaan bersih (daripada hadas kecil).” (Hadis riwayat Abu Daud)
Adapun menyebut dan memuji-muji Allah terutama dengan nama-nama Al-Asma’ Al-Husna dan memberi selawat dan salam kepada Nabi, dijelaskan di dalam surah Al-A’raf ayat 180 yang tafsirnya :
“Dan Allah mempunyai nama-nama yang baik (yang mulia), maka serulah (dan berdoalah) kepadaNya dengan menyebut nama-nama itu.”
Daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata:
“Setiap doa itu terhalang sehinggalah diucapkan selawat ke atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Hadis riwayat Ad-Dailami)
3. Berdoa dengan jalan bertawassul dengan amal saleh. Allah berfirman di dalam surah Al-Ma’idah ayat 35 yang tafsirnya :
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang boleh menyampaikan kepadaNya (dengan mematuhi perintahNya dan meninggalkan laranganNya).”
Manakala diriwayatkan daripada Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda maksudnya :
“Tiga orang keluar berjalan-jalan lalu mereka kehujanan, maka mereka masuk ke dalam sebuah gua yang terdapat di sebuah gunung. Lalu (apabila hendak keluar) mereka terhalang oleh satu batu besar. Nabi bersabda: “Lantas berkata sebahagian mereka (salah seorang) kepada yang lain: “Berdoalah kamu kepada Allah dengan amal salih yang paling baik yang telah kamu lakukan. Maka berdoa salah seorang daripada mereka: “Ya Allah! Sesungguhya aku mempunyai ibu bapa yang sangat tua. Dulu aku selalu keluar mengembala, kemudian aku datang untuk memerah susu, aku membawa air susu selanjutnya untuk aku berikan kepada ibu bapaku lalu keduanya minum, kemudian barulah aku beri minum anakku, keluargaku dan isteriku. Maka pada satu malam aku terhalang (memberi minum keduanya) kerana aku datang (membawa susu) sedang keduanya sedang tidur. Nabi menyabdakan kata orang itu: “Aku (benci) tidak suka untuk membangunkan keduanya walaupun anak-anak menggeliat-geliat kelaparan di kakiku. Maka begitulah keadaan kebiasaanku dan kebiasaan mereka berdua sehingga terbit fajar. Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku telah melakukan sedemikian itu kerana semata-semata untuk mendapatkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini yang dari situ kami boleh melihat langit”. Nabi bersabda: “Lalu dibebaskanlah mereka (dengan bergerak satu pertiga batu besar itu). Berdoa seorang lagi yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku dulu pernah mencintai seorang perempuan iaitu salah seorang anak perempuan bapa saudaraku sebagaimana cinta yang mendalam seorang lelaki kepada seorang perempuan. Perempuan itu mengatakan: “Engkau tidak akan memperoleh sedemikian itu daripadanya sehingga engkau memberinya seratus dinar” Lalu aku berusaha sehingga aku berhasil mengumpulkannya (wang sebanyak itu), maka ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia (wanita itu) berkata: “Bertakwalah engkau kepada Allah dan janganlah engkau merosakkan mahkota kegadisan kecuali dengan haknya”. Lalu aku berdiri dan meninggalkannya, maka jika engkau mengetahui bahawa aku melakukan sedemikian itu kerana semata-mata mengharapkan keredaanMu, maka bebaskanlah kami daripada kesusahan ini”. Nabi bersabda: “Maka Allah membebaskan mereka (dengan bergerak batu itu) dua pertiga”. Berdoa pula seorang yang lain: “Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku mengupah seorang pekerja dengan beberapa cupak gandum lalu aku memberinya dan dia menolak untuk mengambil (upahnya). Lalu aku senghaja mengambil dari beberapa cupak gandum itu lalu aku tanam sehingga aku belikan daripada hasilnya seekor lembu dan pengembalanya, kemudian dia datang seraya berkata: “Wahai Hamba Allah! Berikan (kepadaku) hak saya”. Maka aku berkata: “Pergilah engkau kepada lembu itu dan pengembalanya, sesungguhnya itu adalah milikmu”. Pekerja itu berkata: “Adakah engkau menghinaku?” Aku menjawab: “Aku tidak menghinamu tetapi memang lembu itu benar-benar milikmu.” Ya Allah! Jika Engkau mengetahui bahawa aku melakukan hal sedemikian itu kerana semata-mata mendapatkan keredaanMu maka bebaskanlah kami”. Maka dibebaskanlah (musibah) itu daripada mereka.” (Hadis riwayat Bukhari)
4. Berdoa menghadap ke kiblat dan mengangkat dua tangan sekira-kira nampak putih ketiak dan menyapu kedua tapak tangan ke muka setelah selesai. Daripada ‘Abbad bin Tamim Al-Mazini bahawa ia mendegar bapa saudaranya berkata maksudnya :
“Pada satu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi keluar memohon dikurniakan hujan. Maka Baginda membelakangi orang sambil berdoa mengadap kiblat dan membalikkan selendangnya, kemudian baginda bersembahyang dua rakaat.” (Hadis riwayat Muslim)
Daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu ada kemuliaan dan sesungguhnya semulia-mulia majlis ialah majlis yang dihadapkan ke kiblat.”
(Hadis riwayat Ath-Thabarani dan Al-Hakim)
Diriwayatkan pula daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :
“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sewaktu berdoa sehingga ternampak putih kedua ketiaknya.” (Hadis riwayat Muslim)
Daripada Umar bin Al-Khatthab Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila Baginda mengangkat kedua tangannya sewaktu berdoa, Baginda tidak akan menurunkan keduanya sehinggalah Baginda menyapukan keduanya ke mukanya.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
5. Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan merasa penuh yakin akan diperkenankan. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu maksudnya :
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kamu yakin diperkenankan dan ketahuilah Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai serta tidak sungguh-sungguh.”
6. Berdoa disertai dengan kerendahan hati, khusyuk dengan jiwa yang tulus ikhlas,merendahkan suara di antara berbisik dan nyaring dan diiringi dengan perasaan takut azab Allah dan penuh harapan dengan limpah kurniaNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam surah Al-A’raf ayat 55 tafsirnya :
“Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan.”
Perkara ini ditekankan juga oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam sabdanya yang diriwayatkan daripada Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu maksudnya :
“Wahai Manusia! Berlembutlah kamu terhadap diri kamu sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli dan tidak juga yang ghaib, sesungguhnya Dia bersama kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat yang berkat namaNya dan tinggi kebesaranNya.”
(Hadis riwayat Bukhari)
Di dalam surah Al-Anbiya’ ayat 90, Allah berfirman maksudnya :
“Sesungguhnya mereka sentiasa berlumba-lumba dalam mengerjakan kebaikan, dan sentiasa berdoa kepada Kami dengan penuh harapan serta gerun takut dan mereka pula sentiasa khusyuk (dan taat) kepada Kami.”
7. Tidak berdoa dengan sesuatu yang tidak selayaknya seperti perkara yang tidak munasabah dan mustahil. Maka oleh kerana itu adalah lebih utama berdoa dengan doa-doa yang ma’tsur yang datang daripada Al-Quran dan Sunnah dan para sahabat. Di samping doa-doa tersebut jauh daripada permohonan yang tidak selayaknya, doa-doa tersebut bersifat umum, menyeluruh dan padat. Daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata maksudnya :
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai doa yang menyeluruh maknanya dan dia tinggalkan selain daripada itu.” (Hadis riwayat Abu Daud)
Oleh kerana itu doa yang paling banyak Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam baca sebagaimana yang diriwayatkan daripada Anas Radhiallahu ‘anhu berkata maksudnya :
“Adalah doa Nabi Shallallahu’alaihi wasallam yang terbanyak sekali (Baginda baca ialah): “Ya Allah! Ya Tuhan kami! Kurniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharakanlah kami daripada azab api neraka.” (Hadis riwayat Bukhari)
8. Berterusan berdoa dan mengulang-ngulang doa sebanyak tiga kali dan tidak berputus asa serta tergesa-gesa menganggap doa tidak diperkabulkan. Diriwayatkan daripada Aisyah Radhiallahu ‘anha daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyukai orang-orang yang mengulang-ngulang di dalam berdoa.” (Hadis riwayat Baihaqi)
Daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyenangi supaya seseorang itu berdoa tiga-tiga kali dan beristighfar tiga-tiga kali.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ahmad)
Manakala daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Dikabulkan (doa) salah seorang daripada kamu selama dia tidak tergesa-gesa iaitu dengan berkata: “Aku sudah berdoa (tetapi) tidak dikabulkan.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Tersebut di dalam kitab Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah’ala Al-Adzkar An-Nawawiyah, Makki menyebutkan bahawa jarak masa doa Nabi Zakaria ‘Alaihissalam memohon dikurniakan zuriat dengan berita gembira adalah 40 tahun. Begitu juga sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu ‘Athiyyah daripada Ibnu Jarir, Muhammad bin Ali dan Adh-Dhahhak bahawa doa Nabi Musa ‘Alaihissalam kepada Firaun tidak diperkenankan melainkan setelah 40 tahun berlalu.
Sesungguhnya kadang-kadang doa belum diperkenankan kerana doa itu menjadi pahala yang disimpan di akhirat nanti dan adakalanya menjadi sebab dipalingkan seseorang itu daripada sesuatu keburukan dengan sebab doanya itu. Oleh itu adalah lebih baik terus menerus berdoa daripada merungut-rungut doa tidak dikabulkan. Daripada Abu Sa’id Al-Khudri berkata sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Tiada seorang muslim berdoa dengan satu doa, bukan doa yang mengandungi dosa dan bukan doa yang memutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengurniakan dengan doanya itu salah satu daripada tiga perkara: sama ada dipercepatkan (disegerakan) baginya doanya itu, atau disimpan baginya pahala doanya itu di akhirat (sebagai balasan), atau dihindarkan daripadanya sesuatu keburukan seumpamanya. Mereka berkata: “Kalau begitu baiklah kami memperbanyakkan doa”. Bersabda Nabi: “Allah lebih banyak menerima doa hamba-hambanya.” (Hadis riwayat Ahmad)
9. Memilih dan mengutamakan waktu-waktu dan tempat-tempat atau ketika dimana doa mudah dan cepat dikabulkan. Di antaranya ialah:
  • Di satu pertiga akhir waktu malam dan selepas menunaikan sembahyang fardu. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Tuhan kami Tabaraka wa Ta’ala turun tiap-tiap malam ke langit dunia ketika tinggal satu pertiga akhir waktu malam berfirman: “Barangsiapa yang berdoa kepadaKu maka Aku akan mengabulkannya baginya, barangsiapa meminta kepadaKu maka Aku akan memberinya, barangsiapa memohon keampunanKu maka Aku mengampuninya.” (Hadis riwayat Bukhari)
Diriwayatkan daripada Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah ditanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :
“Doa apakah yang lebih didengar (dikabulkan)?” Nabi bersabda: “(Doa tatkala) satu pertiga terakhir malam dan sesudah sembahyang fardu.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
  • Malam Lailatulqadar. Firman Allah di dalam surah Al-Qadr ayat 3-5 yang tafsirnya :
“Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu, turun para malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun berikut). Sejahteralah malam (yang berkat itu) hingga terbit fajar.”
Manakala diriwayatkan daripada Sayyidatina Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata yang maksudnya:
“Aku berkata: “Wahai Rasulullah! Apa pendapatmu (katamu) jika aku mengetahui malam Lailatulqadar daripada mana-mana malam, apa yang hendak aku baca pada malam itu?” Nabi bersabda: “Engkau bacalah Ya Allah! Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Mulia, suka mengampuni maka ampunilah aku.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
  • Hari Arafah. Diriwayatkan daripada ‘Amr bin Syuaib daripada bapanya daripada neneknya sesungguhnya Nabi Shallallahu’ alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Sebaik-sebaik doa ialah doa pada hari Arafah dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan ialah tiada tuhan melainkan Allah yang tunggal yang tiada sekutu bagiNya. BagiNya kekuasaan dan bagiNya puji-pujian dan Dia Maha Berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
  • Bulan Ramadhan. Ini adalah kerana bulan Ramadan ialah bulan yang agung, bulan yang mulia lagi berkat serta dibukakan pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu Bulan Ramadan bulan yang diberkati, Allah memfardukan kepada kamu berpuasa di dalamnya. Dalam bulan Ramadan dibuka pintu-pintu syurga dan dikunci pintu-pintu neraka dan dibelenggu syaitan-syaitan.” (Hadis riwayat Ahmad)
Tambahan lagi orang yang berpuasa itu tidak ditolak sebagaimana yang yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya:
“Tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa sehinggalah dia berbuka, imam (pemerintah) yang adil dan doa orang yang dizalimi.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
  • Hari dan malam Jumaat. Daripada Abu Lubabah bin Abdul Mundzir berkata, telah bersabda Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :
“Sesungguhnya hari Jumaat itu adalah penghulu segala hari dan hari yang paling agung di sisi Allah dan ia (hari Jumaat) adalah lebih agung di sisi Allah dari Hari Raya Adha dan Hari Raya Fitri. Pada hari Jumaat itu terdapat lima peristiwa penting. (Iaitu) Allah mencipta Nabi Adam, Allah menurunkan Nabi Adam ke bumi, Allah mewafatkan Nabi Adam, pada hari itu ada satu waktu, bila seorang hamba memohon kepada Allah pasti Allah mengurniakannya selama mana dia tidak meminta yang haram dan pada hari itu juga terjadinya Hari Kiamat. Tiada satu malaikat Muqarrib, tidak juga langit, bumi, angin, gunung, dan lautan kecuali mereka itu merasa takut akan hari Jumaat.” (Hadis riwayat Ibnu Majah)
Diriwayatkan pula daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Apabila malam Jumaat, jika engkau berdaya bangun pada satu pertiga malam yang akhir, maka sesungguhnya padanya ada satu waktu yang dipersaksikan (oleh Allah dan para malaikat) dan doa pada waktu itu mustajab.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
  • Di antara azan dan iqamah. Daripada Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Doa di antara azan dan iqamah tidak akan ditolak. Berkata para sahabat: “Maka apa yang patut kami katakan wahai Rasulullah (ketika itu)?” Nabi bersabda: “Pohonlah kepada Allah keafiatan di dunia dan di akhirat.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
  • Ketika berhadapan dengan musuh di dalam peperangan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d As-Sa’idi bahawasanya dia berkata yang maksudnya :
“Dua masa dibukakan keduannya pintu-pintu langit dan sedikit sekali doa orang yang berdoa ditolak; ketika panggilan untuk mendirikan sembahyang dan berhadapan dengan musuh dalam peperangan.” (Hadis riwayat Malik)
  • Ketika sujud di dalam sembahyang. Daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Sehampir-hampir seorang hamba kepada Tuhannya adalah (ketika) dia sujud, maka kamu perbanyakkanlah doa.” (Hadis riwayat Muslim An-Nasa’i, Abu Daud dan Ahmad)
  • Ketika mendengar kokokan ayam. Ini adalah berdasarkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya:
“Apabila kamu mendengar kokokan ayam maka mohonlah kepada Allah daripada kelebihanNya, sesungguhnya ayam itu telah melihat malaikat dan apabila kamu mendengar pekikan suara keldai maka mohonlah perlindungan dengan Allah daripada syaitan, sesungguhnya keldai itu telah melihat syaitan.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Adapun sebab digalakkan berdoa pada waktu itu, adalah bagi mengharapkan pengaminan malaikat kepada doa yang dibacakan dan permohonan keampunan mereka kepada orang yang berdoa dan persaksian mereka terhadap keikhlasan orang yang berdoa. (Lihat Fath Al-Bari 6/508 dan Syarh Shahih Muslim 9/41)
Oleh kerana itu juga ketika mengucapkan amin pada surah Al-Fatihah di dalam sembahyang adalah saat dimakbulkan doa kerana para malaikat turut juga mengaminkan pada ketika itu berdasarkan riwayat daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Apabila imam mengucapkan amin maka hendaklah kamu mengucapkan amin, sesungguhnya sesiapa yang bertepatan aminnya dengan amin malaikat nescaya diampuni baginya apa yang terdahulu daripada dosanya.” (Hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
  • Ketika waktu hujan. Diriwayatkan daripada Sahl bin Sa’d berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Dua ketika (di mana doa) tidak ditolak atau sedikit sekali yang ditolak: (iaitu) berdoa ketika azan dan ketika pertempuran sedang berkecamuk (dan dalam satu riwayat mengatakan) dan ketika hujan.” (Hadis riwayat Abu Daud)
  • Ketika meminum air zam zam. Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Air Zamzam itu menurut kehendak tujuan meminumnya. Jika engkau meminumnya untuk memohonkan kesembuhan dengannya nescaya Allah akan menyembuhkanmu dan jika engkau meminumnya untuk memohon perlindungan nescaya Allah akan melindungimu dan jika engkau meminumnya bagi melepaskan rasa dahagamu nescaya Allah akan melepaskannya dan jika engkau meminumnya bagi kekenyanganmu nescaya Allah akan mengenyangkanmu, ia (air Zamzam) itu adalah lekukan daripada pukulan malaikat Jibril dan minuman Nabi Ismail.” (Hadis riwayat Ad-Daraquthni dan Al-Hakim)
  • Ketika membaca Al-Quran terutama apabila khatam. Diriwayatkan daripada ‘Imran bin Hushain berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Barangsiapa yang membaca Al-Quran maka bermohonlah (berdoa) kepada Allah dengan Al-Quran, sesungguhnya akan datang suatu kaum yang membaca Al-Quran meminta (upah dan sedekah) kepada manusia dengan membacanya.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Diriwayatkan pula daripada Mujahid Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :
“Telah diutus seseorang kepadaku dan dia berkata: “Sesungguhnya kami menjemputmu kerana kami hendak mengkhatam Al-Quran dan sesungguhnya telah sampai kepada kami bahawa doa diperkabulkan ketika mengkhatam Al-Quran. Berkata Mujahid: “Maka mereka berdoa dengan beberapa doa (ketika khatam Al-Quran).” (Riwayat Ad-Darimi)
  • Di tempat-tempat yang mulia kerana keberkatannya dan kemuliaan yang dikurniakan oleh Allah seperti di Masjidilharam, Masjid An-Nabawi dan Masjid Al-Aqsa. Para ulama berpendapat bahawa berdoa di tempat-tempat ini adalah mustajab kerana melihat kepada keberkatan dan kemuliaannya di samping rahmat Allah yang luas di tempat-tempat tersebut. Diriwayatkan daripada Abu Darda’ Radhiallahu ‘anhu daripada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Satu kali sembahyang di Masjidilharam adalah menyamai dengan seratus ribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di masjidku (Masjid An-Nabawi) menyamai dengan seribu kali sembahyang, dan satu kali sembahyang di Baitulmaqdis menyamai dengan lima ratus kali sembahyang.” (Hadis riwayat Ath-Thabarani)
Tuntutan dan etika di dalam berdoa, bukan hanya menghendaki kita berdoa untuk diri sendiri, akan tetapi ia juga menghendaki kita mendoakan untuk orang lain terutama kepada ibu bapa, zuriat keturunan, ahli keluarga, saudara mara, muslimin dan muslimat sama ada yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Doa yang seumpama ini banyak tersebut di dalam Al-Qur’an. Di antaranya ialah doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam di dalam surah Ibrahim ayat 41 yang tafsirnya :
“Wahai Tuhan kami! Berilah keampunan bagiku dan bagi kedua ibu bapaku serta bagi orang-orang yang beriman, pada masa berlakunya hitungan amal dan pembalasan.”
Ibu bapa adalah orang yang terutama sekali untuk didoakan oleh anak-anak sebagai membalas jasa keduanya memelihara dan mendidik di waktu kecil. Anjuran ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah Al-Isra’ ayat 24 yang tafsirnya :
“Dan doakanlah (untuk mereka dengan berkata): “Wahai Tuhanku! Cucurilah rahmat kepada mereka berdua (ibu bapaku) sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya memelihara dan mendidikku semasa kecil.”
Sesungguhnya doa anak-anak kepada kedua ibu bapa adalah besar manfaatnya, lebih-lebih lagi apabila keduanya telah meninggal dunia. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Apabila seseorang meninggal dunia, terputus amalnya daripadanya melainkan daripada tiga (sumber); daripada sedekah jariah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak salih yang mendoakannya.” (Hadis riwayat Muslim)
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat darjat seseorang hamba yang salih di dalam syurga, maka dia berkata: “Wahai Tuhanku! Dari mana saya memperoleh darjat ini?” Allah menjawab: “(Ianya) daripada doa permohonan keampunan yang dilakukan oleh anakmu.” (Hadis riwayat Ahmad)
Sebagaimana anak-anak dianjurkan berdoa untuk kedua ibu bapa, begitu juga ibu bapa adalah dianjurkan supaya mendoakan anak-anak mereka sebagaimana Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam berdoa untuk anaknya yang tersebut di dalam surah Ash-Shaffat ayat 100 yang tafsirnya :
“Wahai Tuhanku! Kurniakanlah kepadaku anak yang tergolong daripada orang-orang yang salih.”
Mendoakan orang lain lebih-lebih lagi orang yang tiada hadir dan tanpa pengetahuannya adalah lebih cepat dan mudah dikabulkan sebagaimana yang diriwayatkan daripada Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Doa yang paling cepat diterima ialah doa seseorang bagi seseorang yang lain yang tidak hadir.” (Hadis riwayat Abu Daud)
Manakala daripada Ummu Ad-Darda’ berkata, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Doa seorang muslim bagi saudaranya yang tidak hadir adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang diwakilkan setiap kali dia berdoa bagi saudaranya itu. Malaikat yang diwakilkan itu pula berkata: “Amin, dan bagimu seumpama (yang didoakan).” (Hadis riwayat Muslim)
Imam Nawawi Rahimahullah Ta’ala berkata bahawa doa yang semacam ini mustajab kerana keikhlasan orang yang mendoakan itu. Setengah ulama salaf apabila mereka hendak berdoa untuk diri mereka sendiri, mereka akan mendoakan juga saudara mereka yang muslim dengan doa yang seumpamanya kerana cara doa seperti ini adalah mustajab, di samping mereka juga akan mendapat seumpama apa yang mereka doakan bagi saudara mereka yang muslim itu. (lihat Syarh Shahih Muslim 9/44)
Oleh kerana itu juga, adalah disunatkan meminta agar didoakan oleh orang-orang yang mempunyai kelebihan seperti orang-orang salih sekalipun dia (orang yang meminta didoakan itu) mempunyai kedudukan yang lebih baik daripada orang tersebut (orang yang diminta supaya mendoakan), berdasarkan riwayat daripada Ibnu Umar daripada Umar bin Al-Khaththab Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :
“Sesungguhnya dia (Umar) meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk melakukan umrah. Lalu Nabi bersabda: “Wahai saudaraku! Sertakan kami di dalam doamu dan jangan engkau melupakan (untuk mendoakan) kami.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Dari itu janganlah berdoa untuk diri sendiri sahaja, berdoalah untuk orang lain juga hatta kepada orang yang bukan berugama Islam sekalipun, tetapi dengan syarat bukan doa yang berbentuk permohonan keampunan bagi mereka, kerana ianya dilarang sebagaimana firman Allah di dalam surah At-Taubah ayat 113 yang tafsirnya :
“Tidaklah dibenarkan bagi Nabi dan orang-orang yang beriman, meminta ampun bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang itu kaum kerabat sendiri, sesudah nyata bagi mereka bahawa orang-orang musyrik itu adalah ahli neraka.”
Doa yang diharuskan kepada orang yang bukan Islam ialah doa agar mereka mendapat hidayat, sihat tubuh badan dan seumpamanya yang layak disebutkan untuk orang yang bukan Islam sebagaimana diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata yang maksudnya :
“Thufail bin ‘Amr datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kabilah Daus telah menderhaka dan enggan (menerima Islam), mohonlah (berdoalah) kepada Allah agar keburukan ke atas mereka” Orang-orang menyangka bahawa Baginda akan berdoa memohon sesuatu keburukan ke atas mereka (kabilah Daus). Maka Baginda bersabda: “Ya Allah! Berikanlah hidayat kepada kabilah Daus dan datangkanlah mereka sebagai orang-orang Islam.” (Hadis riwayat Bukhari)
Selain daripada itu juga yang berhubung dengan doa, setiap orang Islam hendaklah menghindari daripada menzalimi dan menganiayai orang lain sekalipun kepada orang yang berbuat maksiat kerana doa orang yang dizalimi itu adalah sangat mustajab sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’az bin Jabal ketika Baginda mengutusnya ke Yaman yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang maksudnya :
“Dan takutlah engkau akan doa orang yang dizalimi, sesungguhnya (doa orang yang dizalimi itu) tidak ada di antaranya dan di antara Allah pendinding.” (Hadis riwayat Bukhari)
Diriwayatkan pula daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :
“Doa orang yang dizalimi itu adalah mustajab, sekalipun dia adalah seorang yang berbuat maksiat, kerana kemaksiatannya itu adalah tertanggung ke atas dirinya sendiri.” (Hadis riwayat Ahmad)
Akhirnya sebagai penutup, setiap orang Islam hendaklah memperbanyakkan doa. Berdoa adalah menunjukkan akan ingatan kepada Allah Yang Maha Berkuasa. Mengingat Allah hendaklah dilakukan di setiap masa sama ada di waktu senang atau susah. Begitulah juga dengan amalan dalam berdoa hendaklah dilakukan di setiap masa lebih-lebih lagi di waktu senang dan mewah, dengan itu apabila di waktu susah doa akan mudah diperkenankan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiallah ‘anhu yang maksudnya:
“Barangsiapa suka supaya dikabulkan doanya oleh Allah di waktu kesulitan dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan doa di waktu senang.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Sumber: Brunei Darussalam Mufti’s Office

Tuntutan dan Etika Ketika Berdoa (Part 1)

BERDOA merupakan salah satu daripada elemen yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Ia merupakan pengakuan hamba terhadap kekuasaan Allah yang mutlak terhadap segala yang berlaku, manakala dari segi yang lain pula ia adalah bentuk pengabdian seorang hamba kerana hadirnya perasaan berhajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Berdasarkan ini, doa mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah dan Allah menyukai orang yang berdoa kepadaNya. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Dalam hadis yang lain pula, daripada Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhuma, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang maksudnya :
“Mohonlah kebaikan/kelebihan daripada Allah kerana sesungguhnya Allah suka diminta kebaikan/kelebihan dan sebaik-baik ibadah adalah menunggu kelapangan (terlepas daripada kesusahan).” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Doa adalah penggerak dalaman yang memberikan kekuatan, keyakinan, harapan dan keberkatan dalam apa jua amal perbuatan. Maka tidak hairan di dalam Islam setiap langkah sesuatu perbuatan, ada doa-doanya tertentu yang digalakkan supaya diamalkan sama ada sebelum memulakan sesuatu perbuatan ataupun selepas melakukannya.
Semua ini tidak lain, bagi menggalakkan orang-orang Islam agar sentiasa berdoa dan bagi menggambarkan bahawa berdoa itu adalah salah satu daripada keperluan yang penting di dalam mencari keberkatan, keredaan dan perlindungan Allah sepenuhnya pada mencapai segala apa yang dilakukan.
Sebab itu orang yang enggan berdoa bukan sahaja dia telah menutup bagi dirinya berbagai-bagai pintu kebaikan, malah dia juga akan mendapat kemurkaan daripada Allah. Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda yang diriwayatkan daripada Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu yang maksudnya :
“Sesungguhnya orang yang tidak meminta (berdoa) kepada Allah, Dia (Allah) marah kepadanya.”
Kelebihan atau fadhilat doa itu amat besar dan banyak sekali. Melalui doa, keampunan dan rahmat diperolehi, dan melalui doa juga musibah dan kesusahan terhindar. Pendeknya, jika Allah menghendaki dan merestui doa hambanya, tiada ada satu daya kuasa pun yang dapat menghalangnya dan Allah tidak akan mensia-siakan keikhlasan orang yang berdoa.
Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Al- Baqarah ayat 186 yang tafsirnya :
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): “Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu), dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik dan betul.”

Imam Al-Ghazali Rahimahullahu Ta’ala berkata:
“Jika ada orang bertanya, apa manfaat doa itu padahal qada (ketentuan Allah) tidak dapat dihindarkan. Ketahuilah bahawa qada juga boleh menghindarkan suatu bala dengan berdoa. Maka doa adalah menjadi sebab bagi tertolaknya suatu bala bencana dan adanya rahmat Allah sebagaimana juga halnya bahawa perisai adalah menjadi sebab bagi terhindarnya seseorang daripada senjata dan air menjadi sebab bagi tumbuhnya tumbuh-tumbuhan di muka bumi.”
Perkara ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah di dalam surah Ar-Ra’d ayat 39 yang tafsirnya :
“Allah menghapuskan apa jua yang dikehendakiNya dan Dia juga menetapkan apa jua yang dikehendakiNya. Dan (ingatlah) pada sisiNya ada ibu segala suratan.”
Manakala daripada Salman Radhiallahu ‘anhu berkata, telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang maksudnya :
“Tidak tertolak qada itu melainkan oleh doa dan tidak bertambah di dalam umur itu melainkan oleh kebajikan.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Dalam menghuraikan hadis di atas, pengarang kitab Bahr Al-Madzi membawakan masalah qadha mubram dan qadha mu’allaq tentang makna kedua-dua jenis qadha itu dan hubungannya dengan doa:
“(Kata ulama) Qadha Mubram itu ialah suatu yang ditentukan Allah di dalam ilmunya tiada boleh diubah dan tiada boleh ditukar akan dia dan Qadha Mu’allaq itu seperti suatu perkara yang berta’liq sekiranya engkau berdoa nescaya diperkenankan apa-apa doamu dan jika sekiranya engkau berbuat kebaktian dan silaturrahim nescaya dipanjangkan umurmu dan sekiranya tiada diperbuat kebaktian dan tiada berdoa, maka tiadalah diperkenankan dan ditambah umur menurut dan bertentang dengan barang yang di dalam ilmuNya. Maka qadha mu’allaq itulah yang ditolak oleh doa.” (Lihat Bahr Al-Madzi 13-14/196)
Adapun kelebihan orang yang berdoa itu sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan daripada Salman Al-Farisi yang maksudnya :
“Sesungguhnya Allah itu Hidup dan Maha Pemberi, Dia malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya lalu Dia mengembalikan kedua tangannya (membalas doa orang itu) dalam keadaan kosong serta rugi.” (Hadis riwayat Tirmidzi)
Di dalam ayat dan hadis tersebut, jelas diterangkan bahawa apabila seorang hamba berdoa kepada Allah, nescaya Allah akan mengabulkan doanya dan tidak akan membiarkan doanya itu kosong sahaja.
Tetapi perlu diingat bahawa untuk mendapat doa yang dimakbulkan, adab-adab atau peraturan berdoa mestilah dipelihara oleh setiap orang yang berdoa. Jika seseorang memohon sesuatu kepada seorang raja, dia akan menjaga adab-adab dan peraturan-peraturannya dari berbagai-bagai segi, maka berdoa dan memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tentulah lebih patut lagi dia menjaga adab dan tatacara berdoa agar doa yang dipanjatkan akan dimakbulkan.

Konsep Tawakal

Dalam perspektif Islam, tawakal bererti sikap berserah diri kepada Allah S.W.T, yang bersumber daripada kesedaran bahawa Allah S.W.T adalah zat yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Maka, tiada daya atau kekuatan semua makhluk kecuali milikNya. Namun, tawakal kepada Allah tidak bererti penyerahan diri secara pasif, sebaliknya harus disertai oleh usaha.

Kisah Pertama:

Suatu ketika Khalifah Umar bin al-Khattab menjumpai sekumpulan pemuda yang sedang melepak di pinggir jalan.

"Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Umar kehairanan.

"Kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah", Jawab kumpulan pemuda itu.

"Kamu berbohong. Kamu bukan orang yang bertawakal. Orang yang bertawakal ialah orang yang menanam benih kurma dan gandum," Jelas khalifah.


Kisah Kedua:

Pada waktu yang lain Khalifah Umar bin al-Khatab menghampiri beberapa orang yang selalu dilihat duduk di serambi masjid.

Umar bertanya, " Bagaimana kamu mencukupi keperluan hidup kamu? "

Mereka menjawab, "Kami ini orang yang bertawakal."

Umar menolak jawapan mereka seraya berkata, " Bukan, kamu ini tidak lain ialah orang yang berpeluk tubuh dan tidak mahu mencari rezeki. Kemudian kamu berdoa kepada Allah, ' Ya Allah, berikanlah aku rezeki.'. Sebab kamu mengetahui bahawa langit itu tidak pernah  menurunkan hujan emas ataupun perak."

Sebagaimana kisah di atas, Umar menyuruh agar tidak hanya sekadar berdoa dan berserah kepada Allah S.W.T , namun harus disertai usaha, berikhtiar dan bekerja keras.

Rasulullah SAW menegur secara bijaksana terhadap badwi yang memahami konsep tawakal dengan hanya berserah sahaja kepada Allah SWT tanpa sebarang ikhtiar. Dalam sebuah hadis diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

Suatu ketika seorang lelaki datang berjumpa Rasulullah SAW sambil meninggalkan unta tungganganya, seraya berkata, " Aku lepaskan untaku dan aku bertawakal." Maka Nabi menjawab,
" Ikatlah untamu dan bertawakallah kau."

Jelas disini tidak ada tawakal apabila tidak disertai dengan usaha. Namun, banyak kekeliruan terjadi dalam memahami hadis itu iaitu sering difahami bahawa tawakal itu dilakukan setelah usaha keras dilaksanakan.

Pemahaman ini memang bersumberkan daripada sejumlah dalil, antaranya ini. Pemahaman ini sebenarnya kurang tepat, kerana bertawakal haruslah sentiasa menyertai diri seorang Muslim dalam semua tahap usaha, sebelum, ketika, sesudah dan selamanya.

Jadi, terdapat perbezaan dalam pengertian:

"Bekerja lalu bertawakal" dengan " Bertawakal lalu bekerja",

Bekerja lalu bertawakal:

Pengertian ini menjadikan tawakal itu hanya sebagai simbol tanpa memberikan bekas yang bererti terhadap jiwa orang yang tengah melakukan sesuatu pekerjaan, meskipun ia mengaku bertawakal.

Bertawakal lalu bekerja:

Pengertian in pula menjadikan tawakal sebagai landasan sehingga memberikan bekas yang sangat besar pada jiwa dan memberikan kekuatan yang luar biasa yang akan mampu mengatasi kesulitan-kesulitan yang ditemui.

Semangat tawakal yang ada sebelum, ketika dan setelah bekerja juga akan menghindarkan seseorang daripada menempuh jalan yang tidak diredhai Allah SWT untuk mencapai tujuan. Ia yakin dengan tawakalnya. Allah akan membantu memberi jalan serta memudahkan urusannya.

Allah berfirman dalam Surah al-Talaq ayat 3 yang bermaksud:

"Dan sesiapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi keperluannya."

Amalan Yang Membawa ke Syurga

Daripada Abu Umamah R.A, Rasulullah S.A.W bersabda yang bermaksud:
"Bertakwalah kepada Tuhan kamu, tunaikanlah solat lima waktu kamu, berpuasalah pada bulan kamu (Ramadhan), tunaikanlah zakat harta kamu, dan taatilah orang yang mengendalikan urusan kamu, nescaya kamu akan memasuki syurga Tuhan kamu."- (Riwayat al-Tirmizi)

Penerangan:

Dikhususkan amalan dengan perkataan "Kamu" agar terdapat kesesuaian  antara perkataan yang berkaitan dengan balasan iaitu "Syurga Tuhan Kamu". Juga dilangsungkan akad jual beli antara hamba dari Tuhannya, sebagaimana yang difirmankan Allah S.W.T dalam ayat 111 Surah at-Taubah:


Maksudnya : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta benda mereka dengan (balasan) bahawa mereka akan beroleh Syurga, (disebabkan) mereka berjuang pada jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (Kitab-kitab) Taurat dan Injil serta Al-Quran; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu, dan (ketahuilah bahawa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar.

Al- Thibi mengatakan: Hikmah disandarkan dengan perkataan "kamu" ialah:

i) Memberitahu bahawa amalan-amalan yang mempunyai kaifiat yang tertentu ini adalah antara ciri-ciri khusus yang dimiliki oleh umat ini.

ii) Menggesa agar bersegera mematuhi perintah dengan perintah yang diberikan.

iii) Mengingatkan bahawa di sebalik penambahan perkataan ini terdapat penambahan ganjaran yang lebih tinggi dan sempurna itulah syurga. Perkataan syurga pula disandarkan kepada sifat ketuhanan (rabb). Ia memberikan bayangan maksud tentang kelebihan pemerhatian daripada Tuhan dengan memberikan nikmat yang berbeza daripada umat-umat yang lain.

(Tuhfah al-Ahwazi)

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes